Metodologi Memahami Islam

Makna Islam

Secara etimologis, kata “islam” berasal dari tiga akar kata, yaitu:

  • Aslama artinya berserah diri atau tunduk patuh, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.
  • Salam artinya damai atau kedamaian, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup (kedamaian jiwa atau ruh).
  • Salamah artinya keselamatan, yakni menempuh jalan yang selamat dengan mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.

Adapun secara terminologis, Islam adalah agama yang diturunkan dari Allah Swt kepada umat manusia melalui penutup para Nabi (Nabi Muhammad saw).

Untuk lebih memahami makna islam, perlu dipahami pula makna taslim. Taslim (berserah diri) ada tiga tingkatan, yaitu:

Ø  Taslim fisik adalah menyerah secara fisik karena dikalahkan oleh lawan yang memiliki fisik lebih kuat.

Ø  Taslim akal adalah menyerah karena kelemahan dalil, logika, dan argumentasi.

Ø  Taslim hati, biasanya disebabkan oleh fanatisme, jaga gengsi, takut kehilangan pengikut, atau memang hatinya kufur walaupun akalnya sudah taslim.

  1. Tujuan Memahami Islam

Para ulama sepakat bahwa tujuan didatangkannya syari’ah islam adalah untuk menjaga kelima hal berikut, yaitu :

  1. Menjaga dan memelihara agama, hal ini didasarkan oleh :
  • Perlunya melahirkan ulama.

Para Nabi boleh wafat, tapi ajaran islam tidak boleh mati. Pemandu islam harus selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Para ulama itulah yang menjadi pemuka dan pemandu islam di tengah-tengah masyarakat sepanjang jaman. Implikasinya adalah kita wajib menyelenggarakan pendidikan bagi para calon ulama.

  • Membudayakan gerakan belajar agama

Di tingkat lokal dan institusional kita perlu membudayakan belajar agama sepanjang hayat. Kita wajib menyelenggarakan pengajaran agama dimana-mana, di rumah, di mesjid, di kantor, di kampus, dan lain-lain.

  • Perlunya menguasai ilmu-ilmu dasar islam

Para ahli dan praktisi pendidikan islam telah mengembangkan studi paket ilmu-ilmu dasar keislaman. Dengan berbekal ilmu tersebut, diharapkan nantinya kita dapat mengembangkan sendiri ilmu-ilmu tersebut.

  • Ilmu yang fardhu ‘ain

Termasuk ke dalam ilmu ini adalah pengetahuan mengenai tauhid yang benar, zat dan sifat-sifat Allah, cara beribadah yang benar, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan halal dan haram.

  • Melaksanakan kewajiban agama

Mari kita dengar sabda Nabi saw. Kata beliau, yang membedakan antara orang islam dan bukan adalah tarkush-shalat (meninggalkan shalat). Dalam hadits yang lain disebutkan ash-shalatu ‘imaduddin (shalat itu adalah tiang agama). Dalam hadits lainnya juga disebutkan bahwa amal-amal manusia dihitung setelah terlebih dahulu diperiksa shalatnya. Jadi, ciri pertama dan utama orang islam adalah mendirikan shalat. Orang yang mendirikan shalat sudah pasti berpuasa di bulan ramadhan; jika punya kelebihan harta sudah pasti mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah; dan jika punya bekal yang cukup sudah pasti menunaikan haji dan umrah. Orang yang mendirikan shalat akan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

  1. Menjaga dan memelihara jiwa

Anugerah Allah yang paling besar bagi manusia adalah hidup. Oleh karena itu setiap usaha memelihara jiwa manusia sangat dihargai oleh islam. Sebaliknya, segala usaha apapun yang merusak jiwa manusia dikutuk oleh islam. Orang yang menyelamatkan seorang nyawa manusia oleh Allah dipandang sama dengan menyelamatkan seluruh nyawa manusia, sedangkan orang yang membunuh seorang manusia dipandang sama dengan membunuh seluruh manusia.

  1. Menjaga dan memelihara akal

Seruan Allah agar manusia menggunakan akal dan berpikir diulang-ulang dalam berbagai ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Lalu, dengan cara apakah akal dan pikiran kita bisa berkembang? Terutama lewat belajar. Oleh karena itu, Rasulullah saw mewajibkan belajar kepada setiap kaum muslimin.

Hikmah diturunkannya ayat pertama tentang membaca (dalam al-Qur’an surat Al-‘alaq ayat 1-5) menunjukkan bahwa ajaran islam memang mendorong kegiatan belajar mengajar.

Terjemahan:

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
  1. Menjaga dan memelihara harta

Allah Swt telah menganugerahkan rizki yang luas dan harta yang banyak bagi umat manusia. Jika dikelola dengan benar dan adil, maka tidak akan ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang menghadapi kelaparan.

Agama islam didatangkan dengan seperangkat ajaran yang lengkap dan sempurna tentang pengelolaan harta. Dalam islam, pemilik mutlak harta adalah Allah Swt. Oleh karena itulah harta harus diperoleh secara halal.

  1. Menjaga dan memelihara kehormatan

Tujuan didatangkannya agama islam yang kelima adalah menjaga serta memelihara kehormatan dan keturunan. Agama islam – sejalan dengan fitrah Allah- menghendaki agar setiap orang berkeluarga dengan jalan pernikahan. Oleh karena itulah ajaran islam menganjurkan menikah dan mengharamkan zina.

  1. Metodologi Memahami Islam

Memahami berasal dari kata paham yang artinya mengerti, memaklumi dan mengetahui sesuatu hal yang sedang diamati, didengarkan, dikerjakan ataupun sesuatu hal yang sedang terjadi.1

Metode dalam memahami Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Dalam hubungan ini, jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alqur’an sendiri. Kitab ini memiliki banyak dimensi, sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana besar sepanjang sejarah. Satu dimensi, misalnya, mengandung aspek-aspek linguistik dan sastra Alqur’an. Para sarjana sastra telah mempelajarinya secara terperinci. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan Alqur’an yang menjadi bahan pemikiran bagi para filosof serta para teologi.

Ali Syari’ati lebih lanjut mengatakan, ada berbagai cara memahami Islam. Yaitu :

  1. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama-agama lain.
  2. Dengan mempelajari kitab Alqur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi lainnya.
  3. Dengan mempelajari kepribadian rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah.
  4. Dengan mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama maupun alairan-aliran pemikiran lain.

Seluruh cara yang ditawarkan Ali Syari’ati itu pada intinya adalah metode perbandingan (komparasi).

Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topic dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam, juga agama-agama lain, yaitu:

  1. Aspek ketuhanan
  2. Aspek kenabian
  3. Aspek kitab suci
  4. Aspek keadaan waktu munculnya nabi, orang-orang yang di dakwahinya, dan individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.

Selanjutnya, terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razzak. Ia mengajarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh.

Cara tersebut digunakan untuk memahami Islam paling besar agar menjadi pemeluk agama  yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap saling menghormati terhadap pemeluk agam lain. Metode tersebut juga di tempuh dalam rangka menghindari kesalahfahaman yang menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah.

Untuk memahami Islam secara benar, terdapat empat cara yang tepat menurut Nasruddin Razzak, yaitu sebagai berikut:

o   Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alqur’an dan sunnah Rasul.

o   Islam harus dipelajari secara integral atau secara keseluruhan.

o   Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaumzu’ama, dan sarjana Islam.

o   Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis dalam Alqur’an kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosologis.

Dari beberapa metode tersebut terdapat dua metode dalam memahami Islam secara garis besar, yaitu:

  1. Metode komparasi, yaitu metode memahami Islam dengan membandingkan seluruh aspek Islam dengan agama lainnya agar tercapai pemahaman Islam yang objektif dan utuh. Dalam komparasi tersebut terlihat jelas bahwa islam sangat berbeda dengan agama-agama lain. Intinya Islam mengajarkan kesederhanaan dalam kehidupan dan dalam berbagai bidang.
  2. Metode sintesis, yaitu metode memahami Islam dengan memadukan metode ilmiah dengan metode logis normatif.

Sedangkan menurut Ali Anwar Yusuf dalam bukunya Studi Agama Islam, terdapat tiga metode dalam memahami agama Islam , yaitu:

  1. Metode Filosofis

Filsafat adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya sejauh jangkauan kemampuan akal manusia, kemudian berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan meneliti akar permasalahannya.

Memahami Islam melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan tidak memiliki makna apa-apa atau kosong tanpa arti. Namun bukan pula menafikan atau menyepelekan bentuk ibadah formal, tetapi ketika dia melaksanakan ibadah formal disertai dengan penjiwaan dan penghayatan terhadap maksud dan tujuan melaksanakan ibadah tersebut.

  1. Metode Historis

Metode historis ini sangat diperlukan untuk memahami Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan sangat berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Melalui metode sejarah, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya dan hubungannya dengan terjadinya suatu peristiwa.

  1. Metode Teologi

Metode teologi dalam memahami Islam dapat diartikan sebagai upaya memahami Islam dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari satu keyakinan. Bentuk metode ini selanjutnya berkaitan dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang Islam dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Allah yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s